Kreativitas anak bangsa kini mulai diperhitungkan oleh dunia internasional. Hal itu dibuktikan oleh 5 brand lokal yang berhasil lolos kurasi untuk mengikuti trade show berskala internasional.

Trade show ini diikuti tak kurang dari 500 surf, streetwear, lifestyle brand dari seluruh penjuru dunia. Indonesia pun tak ketinggalan ikut berpartisipasi di dalamnya yang diwakili oleh 5 brand lokal streetwear.

Kelima merek streetwear lokal ini telah melalui proses kurasi yang ketat sebelum akhirnya terpilih untuk berpartisipasi dalam Trade show di Amerika Serikat. Masing-masing memiliki konsep dan karakteristik yang unik.

Yuk simak…

  • ELHAUS

Modal Rp 5 juta yang diambil dari tabungan, Eduardus Adityo dan Raven Navaro Pieter memulai bisnisnya. Bisnis yang mereka jalankan memproduksi celana jeans dengan label Elhaus. Namun, celana jeans yang mereka produksi bukanlah jeans biasa. Bahan utama yang digunakan untuk membuat celana jeans yaitu tenun berkelas premium.

Banyaknya jeans impor yang beredar di Bandung pada tahun 2009 membuat keduanya tertarik untuk berbisnis jeans. Akhirnya, pada tahun 2010 mereka mengawali bisnisnya, saat itu keduanya masih berada di bangku kuliah. Celana jeans yang diproduksi awalnya hanya berjumlah 9 pasang.

BACA JUGA : CARA KEREN MELIPAT BAJU

Bagi mereka, penggemar jeans impor menjadi target market utama karena kualitas produknya lebih bagus. Karakteristik yang membedakan dengan yang lain yaitu logo berbahan kulit di bagian belakang yang dibuat secara manual dengan tangan.

Dijual dengan harga relatif tinggi, eksklusivitas produk-produk Elhaus membuatnya banyak diminati oleh kalangan menengah atas. Selain celana jeans, Elhaus juga menjual aneka aksesoris fashion lainnya seperti dompet, kemeja, ikat pinggang, dan celana non jeans.

  • MONSTORE

Agatha Carolina, Michael Chrisyanto, dan Nicholas Yudha memiliki minat yang sama, yaitu seni. Ketiganya patungan masing-masing Rp. 1 juta sebagai modal awal membangun bisnis dengan menjual t-shirt. Kaos dipilih sebagai barang dagangan karena dianggap tidak memerlukan modal yang terlalu besar untuk memproduksinya. Mereka pun lantas menamakan brand mereka Monstore.

Monstore menjual beragam item fashion. Tercatat, Monstore pernah berkolaborasi dengan The Walt Disney Company Indonesia yang bertajuk “The Project Style”. Lewat kolaborasi itu, Monster menampilkan karakter superhero Marvel.

BACA JUGA : OLEH OLEH KAOS DI MALANG

Tak hanya itu, Monstore juga berkolaborasi dengan We The Fest, festival musik tahunan, memproduksi aneka macam merchandise seperti t-shirt. Perpaduan antara seni dan mode tampak melekat kuat dalam setiap koleksi Monstore.

  • PARADISE YOUTH CLUB

Perjalanan Paradise Youth Club (PYC) di ranah streetwear Indonesia dimulai pada tahun 2014. Vincentius Aditya, Fritz Yonathan, Andri Hasibuan dan Hendrick Setioadithyo berkeinginan membuat sesuatu yang sesuai dengan passion mereka.

Lewat media sosial, mereka mampu menjalin kolaborasi dengan partner dari luar negeri, termasuk publikasi di hypebeast. Selain itu, mereka juga melakukan kolaborasi dengan brand luar seperti Jungles dari Australia, PRMTVO dari Amerika, serta Alpha Industries.

  • POP MEETS POP

Kecintaan pada denim membuat Hendry Sasmitapura, Mahatirta A, dan Mursi Mursalat menjajal peruntungan di dunia bisnis dengan mendirikan brand Pot Meets Pop pada tahun 2009. Denim menjadi pilihan bagi mereka karena memiliki keunikan dari aspek kultur dan material.

Koleksi pakaian Pot Meets Pop yang menggunakan bahan material dari Indonesia diperuntukkan tak hanya bagi kaum adam tapi juga kaum hawa. Lewat penggunaan bahan material dari Indonesia dan proses produksi yang dilakukan di bandung, Pot Meets Pop ingin menonjolkan ciri khas lokalnya. Desain yang berkesan klasik dan timeless menjadi karakter Pot Meets Pop lainnya.

  • OLDBLUECO

Hadir tahun 2010, OldblueCo mengingatkan pada awal kemunculan celana jeans yang berfungsi sebagai pakaian kerja. Dirintis oleh Ahmad Hadiwijaya, OldblueCo mengusung konsep American Vintage Workwear.

Dengan modal awal Rp 30 juta, Ia mengimpor bahan material dari luar negeri. Menurutnya, konsep jeans klasik yang ia usung belum ada sama sekali di Indonesia. Awalnya, ia mengandalkan vendor untuk proses pembuatan jeans. Seiring majunya bisnis, ia mulai menggarap produksi sendiri, meski ada pula yang masih digarap vendor.

BACA JUGA : ITEM WAJIB UNTUK PRIA

Awalnya, OldblueCo belum mendapatkan reaksi positif dari pasar di tahun pertama, karena harga yang ditawarkan cukup tinggi. Sejak tahun 2012, peminat OldblueCo mulai banyak. Pasar terbanyak OldblueCo justru berasal dari luar negeri dan memiliki distributor di 6 negara, yaitu AS, Rusia, Thailand, Jerman, Malaysia, dan Australia.

BACA JUGA : KEMEJA YANG HARUS KAMU PUNYA